Indramayu, bidikkriminalnews.co.id – Kondisi memprihatinkan Jembatan Gantung Cinta di Desa Jumbleng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, akhirnya mendapat penanganan darurat setelah sebelumnya menuai sorotan publik. Namun, langkah perbaikan yang dilakukan justru memicu kritik dari masyarakat karena dinilai terlambat dan hanya bersifat sementara.
Jembatan yang menjadi akses vital penghubung antara Blok Jangga Tua dan wilayah sekitar itu sebelumnya mengalami kerusakan serius berupa lubang besar di badan jembatan. Kerusakan tersebut bukan hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga telah menyebabkan sejumlah kecelakaan, bahkan menimbulkan korban luka.
Perhatian terhadap kondisi jembatan ini meningkat setelah insiden yang menimpa seorang warga bernama Ganda bersama istrinya. Keduanya terjatuh saat melintasi jembatan pada malam hari akibat lubang yang sulit terlihat. Akibat kejadian tersebut, sang istri mengalami luka serius hingga harus menjalani perawatan medis.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang memicu reaksi cepat dari Pemerintah Desa Jumbleng. Perbaikan pun dilakukan dengan cara menambal bagian jembatan yang berlubang. Meski demikian, langkah tersebut dinilai warga sebagai respons yang terlambat.
“Miris, sekarang baru diperbaiki setelah ada korban,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Sabtu 18 April 2026.
Menurut warga, kerusakan jembatan sudah terjadi cukup lama dan telah berulang kali dikeluhkan. Namun, tidak ada tindakan signifikan hingga akhirnya kecelakaan terjadi. Kondisi ini memunculkan anggapan adanya pembiaran terhadap kerusakan fasilitas publik yang seharusnya menjadi prioritas.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan masih bersifat tambal sulam. Penambalan pada bagian berlubang dinilai belum mampu menjamin keselamatan pengguna, terutama karena kondisi keseluruhan jembatan yang sudah mulai rapuh.
Kekhawatiran pun muncul di kalangan masyarakat. Mereka menilai potensi kecelakaan masih tetap ada jika tidak dilakukan perbaikan secara menyeluruh. Terlebih, jembatan tersebut merupakan jalur utama yang digunakan warga setiap hari untuk berbagai aktivitas.
“Seharusnya jangan tunggu ada korban dulu baru diperbaiki. Ini menyangkut keselamatan banyak orang,” lanjut warga tersebut.
Minimnya penerangan di sekitar jembatan pada malam hari turut memperparah kondisi. Pengendara roda dua menjadi pihak yang paling rentan mengalami kecelakaan karena sulit menghindari bagian jalan yang rusak.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Indramayu, Atim Sawano, menyampaikan kritik keras terhadap lambannya penanganan.
“Atas nama insan pers, kami sangat menyayangkan kondisi ini. Infrastruktur vital seperti ini seharusnya dirawat secara berkala. Jangan sampai diperbaiki setelah ada korban. Ini menyangkut keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Atim juga menyoroti pola penanganan yang dinilai masih reaktif. Ia menekankan pentingnya sistem pengawasan yang lebih cepat dan responsif terhadap kerusakan infrastruktur.
“Jangan sampai budaya ‘tunggu viral, tunggu korban’ terus terjadi. Pemerintah harus segera bertindak begitu ada laporan kerusakan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi jembatan. Menurutnya, jika struktur sudah tidak layak, maka perlu dilakukan perbaikan total atau bahkan pembangunan ulang.
“Kami berharap ada langkah konkret, bukan sekadar tambal sulam. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.
Hingga saat ini, aktivitas warga di Jembatan Cinta masih berlangsung seperti biasa, meski dihantui rasa was-was. Perbaikan darurat yang dilakukan memang sedikit mengurangi risiko, namun belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran.
Masyarakat berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Mereka menuntut adanya perhatian serius terhadap kondisi infrastruktur publik agar tidak lagi terjadi pembiaran yang berujung pada korban.
Dengan kondisi yang ada, warga kini menunggu langkah lanjutan dari pemerintah dan instansi terkait untuk melakukan perbaikan permanen. Harapannya sederhana, keselamatan tidak lagi menjadi taruhan akibat kelalaian dalam penanganan fasilitas umum.(*)






