Indramayu, bidikkriminalnews.co.id, — Kegiatan bersih-bersih sungai dalam program Sungai Watch di Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, mendadak menjadi perhatian publik. Bukan semata karena tumpukan sampah yang berhasil diangkat dari aliran kali, tetapi juga karena munculnya pemandangan kontras yang memantik sorotan masyarakat dan kalangan wartawan.
Kegiatan yang dihadiri langsung Bupati Indramayu, Lucky Hakim, berlangsung sejak pagi dengan melibatkan petugas gabungan, relawan, hingga warga sekitar. Mereka turun langsung ke aliran sungai untuk mengangkat sampah plastik, ranting kayu, hingga limbah rumah tangga yang selama ini mencemari kali di wilayah tersebut.
Warga menyebut kondisi sungai yang dipenuhi sampah itu sudah berlangsung cukup lama dan kerap menimbulkan bau tidak sedap, terutama saat debit air menurun.
Di tengah kegiatan gotong royong itu, perhatian masyarakat justru tertuju pada aksi Lucky Hakim yang tanpa canggung turun langsung ke sungai penuh sampah. Dengan mengenakan pakaian lapangan, orang nomor satu di Indramayu itu terlihat ikut mengangkat sampah bersama warga dan petugas.
Aksi tersebut menuai apresiasi dari masyarakat yang menilai seorang kepala daerah memang seharusnya memberi contoh nyata, bukan hanya hadir untuk dokumentasi dan seremoni.
“Ini baru pemimpin. Bukan cuma kasih instruksi dari atas, tapi ikut merasakan langsung kotornya sungai,” ujar salah seorang warga di lokasi kegiatan.
Namun di balik aksi itu, muncul pemandangan yang dianggap kurang elok oleh sejumlah peserta kegiatan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, H. Caridin, yang turut hadir di lokasi, justru terlihat lebih banyak berdiri di tanggul sungai saat peserta lain berjibaku di dalam aliran kali yang dipenuhi sampah.
Pemandangan tersebut sontak menjadi bahan perbincangan di lokasi. Sejumlah warga bahkan menyayangkan sikap pejabat yang dinilai hanya hadir “mengamankan absensi”, tanpa ikut terlibat langsung dalam aksi sosial tersebut.
“Kalau bupatinya saja berani nyemplung, masa bawahannya cuma jadi penonton di atas tanggul?” celetuk salah seorang peserta kegiatan.
Sorotan tajam juga datang dari Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia Kabupaten Indramayu, Atim Sawano. Ia menilai kegiatan sosial dan lingkungan seperti ini seharusnya menjadi momentum seluruh pejabat untuk menunjukkan kepedulian nyata kepada masyarakat.
“Ketika bupati mau turun langsung ke sungai yang penuh sampah, mestinya pejabat lain punya semangat yang sama. Jangan sampai terkesan hadir hanya sekadar formalitas atau numpang foto kegiatan,” tegas Atim Sawano kepada awak media.
Menurutnya, kegiatan lingkungan bukan agenda pencitraan sesaat, melainkan bentuk tanggung jawab moral seluruh unsur pemerintahan terhadap kondisi daerah.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat saat ini semakin kritis dalam menilai perilaku pejabat di lapangan. Karena itu, sikap kecil sekalipun dapat memunculkan penilaian besar dari publik.
“Pejabat publik harus mampu memberi teladan. Kehadiran di tengah masyarakat bukan cuma soal datang lalu berdiri manis, tapi bagaimana menunjukkan empati dan kepedulian nyata,” tandasnya.
Terlepas dari sorotan tersebut, kegiatan bersih-bersih sungai di Desa Krangkeng berhasil mengangkat berton-ton sampah dari aliran kali. Pemerintah daerah berharap kegiatan itu mampu meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan ke sungai.
Program Sungai Watch sendiri diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, komunitas lingkungan, hingga warga desa.
Namun demikian, sorotan terhadap sikap sejumlah pejabat dalam kegiatan itu dipastikan masih akan terus menjadi perhatian publik. Sebab di mata masyarakat, keteladanan pejabat bukan diukur dari seberapa rapi berdiri di pinggir kegiatan, melainkan dari keberanian turun langsung menyelesaikan persoalan di lapangan.
(Ahmad Fauzi)











