Dua Tahun Berdiri, Museum Topeng Cirebon Kembangkan Jejaring Budaya Internasional

Ciayumajakuning, Pemerintahan998720091 Dilihat

Cirebon Kota, | bidikkriminalnews.co.id,  – Museum Topeng Cirebon memasuki usia dua tahun. Momentum tersebut diperingati melalui syukuran yang dihadiri Wali Kota Cirebon Effendi Edo, Rabu (2/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota menyampaikan apresiasi atas perjalanan Museum Topeng Cirebon yang hingga kini terus berkembang. Menurutnya, usia dua tahun mungkin terbilang singkat, namun menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah ruang kebudayaan untuk terus tumbuh sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi kepada masyarakat.

“Dua tahun mungkin terlihat singkat, tetapi bagi sebuah ruang kebudayaan, dua tahun merupakan bagian penting dari perjalanan untuk terus tumbuh dan memperkenalkan kekayaan tradisi kita,” ujar Wali Kota.

Ia mengatakan, Cirebon tidak hanya memiliki sejarah yang panjang, tetapi juga kekayaan seni dan budaya yang beragam. Salah satunya adalah seni topeng Cirebon yang telah menjadi bagian dari identitas budaya daerah.

Bagi Wali Kota, topeng tidak sebatas benda seni yang memiliki nilai estetika. Di balik setiap bentuk dan karakter topeng terdapat cerita, filosofi, karakter, serta nilai kehidupan yang menggambarkan perjalanan panjang budaya Cirebon yang diwariskan secara turun-temurun.

“Topeng bukan sekadar benda seni. Di dalamnya ada cerita, karakter, filosofi, nilai-nilai kehidupan, dan perjalanan panjang budaya Cirebon yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.

Karena itu, keberadaan Museum Topeng Cirebon dinilai memiliki arti penting. Museum diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memamerkan koleksi, tetapi juga menjadi ruang belajar, berdiskusi, berkreasi, serta mengenal kembali akar budaya Cirebon.

Wali Kota juga memberikan apresiasi kepada para seniman, budayawan, pengelola museum, komunitas, serta seluruh pihak yang selama ini ikut menjaga keberlangsungan seni dan tradisi Cirebon.

“Pemerintah Kota Cirebon tentu berharap Museum Topeng Cirebon terus berkembang dan semakin dikenal, bukan hanya oleh masyarakat Cirebon, tetapi juga oleh masyarakat dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara,” tuturnya.

Ia menegaskan, museum perlu menjadi ruang budaya yang hidup. Artinya, masyarakat tidak hanya datang untuk melihat koleksi, tetapi juga mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi.

Terlebih di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan semua pihak. Generasi muda, kata Wali Kota, perlu diberikan ruang untuk mengenal dan mencintai budaya daerah, sekaligus diberi kesempatan untuk mengembangkannya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Saya percaya, budaya yang terus diperkenalkan dan diwariskan tidak akan pernah kehilangan tempat. Justru ketika dikelola dengan baik dan dikemas secara kreatif, budaya dapat menjadi kekuatan bagi daerah, termasuk dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon Agus Sukmajaya mengungkapkan, Museum Topeng Cirebon merupakan museum pertama milik Pemerintah Daerah Kota Cirebon. Museum tersebut resmi berdiri pada 2 September 2024 dan kini telah memasuki tahun kedua.

Selama ini, lanjut Agus, seni topeng Cirebon kerap hanya dikenal melalui lima wanda utama, yakni Panji, Rumyang, Tumenggung, Kelana, dan Samba.

Padahal, kekayaan karakter topeng Cirebon jauh lebih luas. Salah satunya berkaitan dengan tradisi wayang wong Cirebon yang memiliki ciri khas berbeda dengan tradisi wayang wong di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

“Kalau di daerah lain wayang wong menggunakan orang yang wajahnya dirias atau dilukis sesuai karakter. Di Cirebon, wayang wong menggunakan topeng sebagai representasi karakter. Setelah diinventarisasi, ternyata karakter topeng Cirebon jumlahnya lebih dari 750,” ungkapnya.

Kekayaan tersebut, kata Agus, menunjukkan bahwa topeng Cirebon memiliki potensi yang sangat besar untuk terus dikaji, dikenalkan, dan dikembangkan. Cerita-cerita pewayangan yang selama ini dikenal melalui wayang kulit di sejumlah daerah, di Cirebon juga hadir dalam bentuk karakter topeng.

Saat pertama kali diresmikan, Museum Topeng Cirebon memiliki sekitar 130 koleksi, yang terdiri atas 100 replika wayang wong serta koleksi topeng lama dari keluarga Nani dan Subrata.

Jumlah tersebut kemudian bertambah signifikan pada tahun berikutnya. Museum mendapatkan hibah sekitar 500 koleksi topeng dari keluarga Nani Taufik yang turut memperkaya koleksi museum.

Selain bangunan utama yang menyimpan koleksi topeng Cirebon, saat ini terdapat pula bangunan Narada yang menjadi bagian dari pengembangan museum. Bangunan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum Iman Taufik, dengan membawa koleksi workshop dan galeri miliknya dari Kuningan ke Cirebon.

“Dalam satu tahun kita mendapatkan tambahan sekitar 500 koleksi. Ini menunjukkan bahwa museum terus berkembang, bukan hanya dari sisi jumlah koleksi, tetapi juga dari sisi cerita dan pengetahuan yang bisa kita sampaikan kepada masyarakat,” katanya.

Memasuki tahun kedua, Disbudpar Kota Cirebon mulai menyiapkan langkah yang lebih besar. Tidak hanya memperkuat posisi Museum Topeng Cirebon sebagai pusat pelestarian budaya lokal, tetapi juga membuka peluang untuk menjadikannya sebagai museum topeng berjejaring internasional.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah pelaksanaan Cirebon Mask Festival pada November mendatang. Festival tersebut dirancang dengan menghadirkan delegasi dari sejumlah negara.

Agus menyebutkan, hingga saat ini sudah ada beberapa negara yang mengonfirmasi keikutsertaan, di antaranya Korea Selatan, Malaysia, Myanmar, dan Singapura. Para delegasi nantinya tidak hanya tampil dalam festival, tetapi juga direncanakan menyerahkan topeng dari negara masing-masing sebagai hibah kepada Pemerintah Kota Cirebon.

“Kami ingin Museum Topeng Cirebon ke depan tidak hanya berbicara tentang koleksi topeng Cirebon, tetapi bisa berkembang menjadi museum topeng internasional. Melalui Cirebon Mask Festival, kami berharap ada pertukaran budaya sekaligus penambahan koleksi dari berbagai negara,” kata Agus.

Menurutnya, konsep tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Jika ke depan semakin banyak negara yang terlibat dalam festival, koleksi internasional Museum Topeng Cirebon juga berpotensi terus bertambah.

Di sisi lain, keberadaan museum juga mulai menunjukkan minat masyarakat. Dalam dua tahun, tercatat lebih dari 18.000 kunjungan ke Museum Topeng Cirebon.

Agus menilai angka tersebut menunjukkan bahwa museum memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Kota Cirebon.

Ke depan, Disbudpar juga menyiapkan pengembangan program pertunjukan rutin di kawasan museum. Rencana tersebut tengah dijajaki bersama sejumlah mitra, termasuk Yayasan Prima Ardhiantana dan Politeknik Pariwisata.

“Pertunjukan rutin diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung sekaligus memperkuat keterkaitan antara museum, seni pertunjukan, dan pariwisata,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *